Pages

Rabu, 03 Agustus 2016

AKUNTANSI INTERNASIONAL "FINANCIAL RISK MANAGEMENT"

Financial Risk Management
Financial risk management is a process that entails companies setting up guidelines to define their policy on accepting financial risk. Individuals who work in financial risk management do not make investment decisions for a company. Instead, those individuals create the guidelines that the risk-takers must follow when analyzing investments they are considering for the company. Financial risk management is defined as the practices and procedures that a company uses to optimize the amount of risk it handles with its financial interests. Senior leaders of a company that practices financial risk management should produce a written policy on financial risks they are willing to accept and follow that policy. They should also monitor the risks taken, and release reports on the results of these risks to help with analyzing them.
The main objective of financial risk management is to minimize potential losses arising from unexpected changes in currency rates, credit, commodities, and equities. Price volatility risk faced is known as market risk. Market risks contained in various forms. Although the focus to price volatility or level, accounting management needs to consider other risks. Liquidity risk arises because not all financial risk management products can be traded freely. Market discontinuities refers to the risk that the market does not always lead to price changes gradually. Credit risk is the possibility that the counterparty to the contract risk management can not meet its obligations. Regulatory risk is the risk arising from the public authorization prohibits the use of a financial product for a particular purpose. Tax risk is the risk that certain hedging transactions can not obtain the desired tax treatment. Accounting risk is the chance that a hedging transaction can not be recorded as part of the transaction to be hedged.
The principles of risk management are:
1.      Transparency
This principle requires that all the potential risks involved in an activity, in particular transactions, disclosed publicly. Risks hidden / concealed will be the largest source of the problem and, by definition, can not be managed properly.
2.      Accurate Measurements
This principle represents the science of the concept of Risk Management, and requires continuous investment to various techniques and tools that will be used as a condition of strong Risk Management process.
3.      Qualified Timely Information
This principle will also determine the measurement accuracy and the quality of the decisions taken. Conversely non-fulfillment of this principle can bring management on a risky decision fatal.
4.      Diversification
Risk Management System are either put the concept of diversification as something noteworthy. This requires constant monitoring pattern and consistent. The assumption is that the concentration of (risk) may occur at any time in line with various changes that occur in the world.
5.      Independence
Based on the principle of independence, the existence of an independent Risk Management group increasingly regarded as a necessity. This principle does not just talk about the authority and the level of responsibility of the group Risk Management and group / other units within the company, but also about about the company's vision and quality of the interrelation between the Risk Management group / other units, and also inter-group / unit carrying transaction by taking certain risks.
6.      Discipline Decision Patterns
Portions of science in Risk Management concept indeed has contributed much to the Risk Management capabilities in measuring risk, but the quality of the decision still depends on how management decides how best to use tools / specific techniques and understand the limitations of the tools / techniques such.
7.      Policy
This principle requires that the objectives and strategy of an enterprise risk management should be formulated in a Policy, Manual & Procedure are clear. Policy should clearly describe and define the company Risk Management philosophy and provide the overall approach used and the organization of the process of taking risks. The main purpose of it is to bring clarity to the process of risk management, for both internally and to external parties such as regulators and analysts.
Importance of Financial Risk Management:
1.      Growth of risk management services that quickly shows that dapatmeningkatkan management company value by controlling the financial risks.
2.      Their great expectations from investors other interested parties, so that financial managers were able to identify and manage the risks facing the market actively.
The role of accounting in the management of financial risk:
The role of management accounting assist in the identification of market exposure, quantify the balance associated with alternative risk response strategies, measure the potential that companies face a particular risk, noting certain hedging products and evaluate the effectiveness of hedging programs.
1.      Market Risk Identification
The basic framework is useful for identifying different types of market risks that could potentially be referred to as risk mapping. This framework begins with observations on the relationship of various market risk to a trigger value of a company and its competitors. And usually referred to as risk mapping cube. The term refers to the trigger value of financial condition and outposts major financial operating performance that affect the value of a company. Market risk includes foreign exchange risk and interest rate and commodity price risks and eukuitas. The third dimension of the cube mapping risks, see the possible relationship between market risk and trigger values ​​for each of the company's major competitors.
2.      Balancing quantifying
Another role played by accountants in the risk management process includes the quantification process offsets associated with alternative risk response strategies. Accountants should quantify the benefits of protected assessed and compared to the cost plus the opportunity cost in the form of lost profits derived from speculation and market movements
3.      Risk Management in the World Floating Exchange Rates
The risk of foreign exchange (forex) is one of the most common forms of risk and will be faced by multinational companies. In a world of floating exchange rates, risk management includes:
a.       anticipation of exchange rate movements,
b.      measurement of foreign exchange risk faced by the company,
c.       designing a strategy for adequate protection, and
d.      manufacture of internal risk management control.

Sumber :
Bessis, Joel (1998) Risk Management in Banking, John Wiley & Sons Ltd., West Sussex, England.
The Risk Metrics Group (1998), Exploring Risk and Managing Risk.


Jumat, 03 Juni 2016

Harmonisasi Akuntansi Internasional di Indonesia dan Singapura



Harmonisasi adalah suatu proses untuk meningkatkan kompatibilitas atau kesesuaian praktik akuntansi dengan menentukan batasan-batasan seberapa besar praktik-praktik tersebut dapat beragam. Harmonisasi dengan standardisasi memiliki perbedaan yaitu, standardisasi berarti penetapan sekelompok aturan yang kaku dan sempit dan bahkan dalam penerapannya satu standar atau aturan tunggal dalam segala situasi. Standardisasi juga tidak mengakomodasi perbedaan-perbedaan antarnegara sehingga lebih sulit untu diterapkan secara internasional. Sedangkan harmonisasi jauh lebih fleksibel dan terbuka, tidak menggunakan pendekatan satu ukuran untuk semua, tetapi mengakomodasi beberapa perbedaan dan telah mengalami kemajuan yang besar secara internasional dalam tahun-tahun terakhir. Hal tersebut membuat harmonisasi lebih mudah diterapkan secara internasional.
Penerapan standar internasional di dalam akuntansi bersifat sukarela dan tergantung, untuk diterima, pada niat baik dari mereka yang menggunakan standar akuntansi. Situasi termudah akan muncul ketika suatu standar internasional hanya merupakan tiruan dari standar nasional. Ketika standar nasional dan internasional berbeda satu sama lain praktek yang ada dewasa ini adalah mengunggulkan standar nasional. Sedangkan untuk harmonisasi jauh lebih fleksibel (luwes) dan terbuka, sehingga tidak menggunakan pendekatan satu ukuran untuk semua, tetapi mengakomodasi beberapa perbedaan dan telah mengalami kemajuan yang besar secara internasional dalam beberapa tahun terakhir. Jadi istilah harmonisasi sebagai kebalikan dari standardisasi memilki arti sebuah rekonsiliasi atas berbagai sudut pandang yang berbeda. Istilah ini lebih bersifat sebagai pendekatan praktis dan mendamaikan daripada standardisasi, terutama jika standardisasi berarti prosedur-prosedur yang dimiliki oleh satu negara hendaknya diterapkan oleh semua negara yang lain. Harmonisasi menjadi suatu bagian yang penting untuk menghasilkan komunikasi yang lebih baik atas suatu informasi agar dapat diartikan dan dipahami secara internasional.
Harmonisasi akuntansi mencakup beberapa  harmonisasi  sebagai berikut:
1.      standar akuntansi (yang berkaitan dengan pengukuran dan pengungkapan)
2.      pengungkapan yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan public terkait dengan penawaran surat berharga dan pencatatan pada bursa efek
3.      standar audit.
Tujuan Harmonisasi adalah sebagai berikut:
1.      Startegi induk perusahaan untuk lebih banyak melakukan expansi dengan mendirikan anak perusahaan di berbagai Negara lain.
2.      Jika tercipta harmonisasi, terciptanya pemahaman atas penyajian informasi induk perusahaan maupun anak perusahaan atau sebaliknya.
3.      Tidak memerlukan proses rumit
4.      Tidak terjadi bias akan informasi
Selain itu terdapat pula beberapa  keuntungan dari harmonisasi, yaitu:
1.      Bagi beberapa negara, belum terdapat suatu standar kodifikasi akuntansi dan audit yang memadai. Standar yang diakui secara internasional tidak hanya akan mengurangi biaya penyiapan untuk negara-negara tersebut melainkan juga memungkinkan mereka untuk dengan seketika menjadi bagian dari arus utama standar akuntansi yang berlaku secara internasional.
2.      Internasionalisasi yang berkembang dari perekonomian dunia dan meningkatnya saling ketergantungan dari negara-negara di dalam kaitannnya dengan perdagangan dan arus investasi internasional adalah argumentasi yang utama dari adanya suatu bentuk standar akuntansi dan audit yang berlaku secara internasional.
3.      Adanya kebutuhan dari perusahaan-perusahaan untuk memperolah modal dari luar, mengingat tidak cukupnya jumlah laba di tahan untuk mendanai proyek-proyek dan pinjaman-pinjaman luar negri yang tersedia, telah meningkatkan kebutuhan akan harmonisasi akuntansi.
            Standar akuntansi di Indonesia saat ini belum menggunakan secara penuh (full adoption) standar akuntansi internasional atau International Financial Reporting Standard (IFRS). Era globalisasi saat ini menuntut adanya suatu sistem akuntansi internasional yang dapat diberlakukan secara internasional di setiap negara, atau diperlukan adanya harmonisasi terhadap standar akuntansi internasional, dengan tujuan agar dapat menghasilkan informasi keuangan yang dapat diperbandingkan, mempermudah dalam melakukan analisis kompetitif dan hubungan baik dengan pelanggan, supplier, investor, dan kreditor. Berdasarkan seajarah, sistem akuntansi Indonesia didasari oleh sistem akuntansi Belanda sebagai hasil dari pengaruh Belanda di negeri ini. Tetapi, ikatan antara kedua negara rusak pada pertengahan tahun 1900. Indonesia berubah mengikuti praktik akuntansi AS. IAI didirikan pada tahun 1959 untuk membimbing akuntan Indonesia. Pada tahun 1970 IAI membuat kode dan diadopsi oleh prinsip dan dasar akuntansi berdasarkan GAAP As pada waktu itu. Sistem akuntansi Indonesia berfokus kepada informasi yang dibutuhkan oleh investor diatas permintaan pemerintah. Pada tahun 1974, IAI membuat komite standar akuntansi keuangan untuk membuat standar keuangan.
Indonesia telah membuat perkembangan ekonomi yang bagus pada dekade yang lalu. Tetapi krisis fiansial asia membuat negara ini menuju ke arah kemiskinan. Sejak krisis, Indonesia telah melakukan beberapa perubahan sosial dan politik. Yang menghasilkan perubahan substansial dan merubah drajat kemakmuran sperti sebelum krisis. Pada tahun 1994, komite standar akuntansi keuangan direkonstruksi sebagai aturan standar akuntansi yang lebih independen atas IAI, sekarang DSAK bekerja untuk mengharmonisasi standar akuntansi indonesia dengan IFRS. Indonesia perlu mengadopsi standar akuntansi international untuk memudahkan perusahaan asing yang akan menjual saham di negara ini atau sebaliknya. Ada beberapa pilihan untuk melakukan adopsi, menggunakan IAS apa adanya, atau harmonisasi. Harmonisasi adalah kita yang menentukan mana saja yang harus diadopsi, sesuai kebutuhan. Contohnya adalah PSAK no 24, itu mengadopsi sepenuhnyaIAS no 19. Standar berhubungan dengan imbalan kerja atau employee benefit. Bapepam telahmemberikan sinyal kepada semua perusahaan go public tentang kerugian apa yang akan kita hadapi bila kita tidak melakukan harmonisasi. Dalam pernyataannya bapepam menjelaskan bahwa kerugian yang berkaitan dengan pasar modal yang masuk Indonesia yang listing di bursa efek di negara lain. perusahaan asing akan kesulitan untuk membandingkan laporan keuangan sesuai standar nasional kita, sebaliknya perusahaan indonesia yang listing di negara lain juga cukup kesulitan untuk membandingkan laporan keuangan sesuai standar di negara tersebut. Hal ini akan menghambat perekonomian dunia, dan aliran modal akan berkurang dantidak mengglobal.
Sementara di Singapura adopsi penuh Standar Akuntansi Internasional tidaklah menjadi masalah. Regulator di negara ini telah meminta perusahaan di Singapura untuk mengikuti Singapore Reporting Standards (FRS) mulai 1 Januari 2003 dan FRS sendiri diadopsi dari AIS. Sampai April 2005 Singapura telah mengadopsi semua Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh IASB, kecuali AIS No.40 tentang Investment Property, yang direvisi oleh IASB dan berlaku pada 1 Januari 2005, sehingga untuk hal tersebut Dewan Standar Singapura memberlakukan secara efektif pada 1 Januari 2007.
Singapore Standar Pelaporan Keuangan (FRSs) adalah standar akuntansi yang diatur dalam Singapore Companies Act. Para FRSs yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi (ASC), yang dibentuk oleh Departemen Keuangan. Perusahaan asing tercatat di bursa efek Singapura mungkin menyiapkan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi tertentu yang diakui secara internasional seperti SAK. The FRSs erat model setelah SAK, dengan modifikasi tertentu untuk tanggal efektif dan ketentuan transisi, persyaratan pengukuran terhadap sifat kembali sebelum suatu tanggal tertentu, dan kriteria pengecualian untuk konsolidasi, akuntansi ekuitas atau konsolidasi proporsional.

Sumber :
Choi, Frederick D.S., Carol Ann Frost, Garry K Meek. 1999.  International
https://jmmymartin.wordpress.com/2014/06/07/bab-7-harmonisasi-akuntansi-internasional/